Foto

Foto
Foto saya

About Me

TTL: Ujung Pandang, 01 Pebruari 1968 Dosen Pangkat / Golongan : Lektor / IV. c Unit Kerja : Universitas Muslim Indonesia Jabatan : Wakil Dekan I & III

Galeri

Program Pasca Sarjana

Tukar Link

Mata Kuliah S1

RSS

Hidup Bahagia dan Bermakna, dengan Sedekah


Pernahkan terpikir, "Mungkinkah manusia membelah tubuh iblis?" Jika Anda menjawab 'tidak', demi menjawab rasa penasaran Anda, ada baiknya Anda membaca keseluruhan tulisan ini.

Profesor Stephen Post, penulis "The Hidden Gifts of Helping", banyak meneliti perilaku kedermawanan. Beliau mengatakan bahwa prilaku kedermawanan akan memberikan perlindungan kesehatan kepada si pelakunya.

Dengan menyelesaikan bacaan ini, Anda makin sadar, betapa besar dampak kedermawanan untuk hidup Anda sendiri. Simaklah temuan penting tentang kedermawanan, berikut ini:

Perilaku kedermawanan ketika menjadi murid SMU ternyata cenderung menjadikan yang bersangkutan sehat jasmani dan rohani setelah 50 tahun berlalu. Paul Wink dari Wellesley College yang meneliti 200 orang dan mengikuti perkembangan hidup mereka sejak tahun 1920 menemukan bahwa sifat kedermawanan telah menjadikan mereka berusia panjang, sehat jasmani dan rohaninya.

Perilaku kedermawanan memperpanjang umur. Sebuah penelitian dari Doug Oman dari University of California at Berkeley yang meneliti 2000 orang di atas umur 55 tahun selama 5 tahun yang menjadi relawan pada 2 atau lebih organisasi sosial, ternyata kemungkinan meninggalnya 44% lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak pernah menjadi relawan.
Penelitian dari Marc Musick dari University of Texas at Austin menemukan bahwa orang yang berusia 65 tahun ke atas dan melakukan kerja sebagai relawan ternyata lebih kecil kemungkinannya untuk meninggal dalam kurun waktu 8 tahun ke depan dibandingkan dengan orang yang tidak melakukan kegiatan sosial.
Perilaku kedermawanan ketika remaja mengurangi kemungkinan terkena depresi dan melakukan bunuh diri. Sebuah studi dari David Sloan Wilson dan Mihaly Csikszentmihalyi membuktikan hal tersebut.
Sedekah menghilangkan kecemasan. Neal Krause dari University of Michigan mengamati 976 orang dewasa yang rajin pergi ke tempat ibadah. Ternyata mereka yang suka bersedekah atau membantu sesama, tidak mengalami kecemasan meskipun situasi ekonominya sedang tidak baik.
Ketika sudah tua, perilaku kedermawanan dapat mempermudah seseorang memaafkan kesalahannya sendiri. Penelitian Neal Krause yang lain, membuktikan bahwa perilaku kedermawanan atau membantu orang lain menjadikan seseorang lebih bersifat pemaaf, termasuk pemaaf terhadap kesalahan dirinya di masa lalu.

Setelah Anda membaca ragam bukti ilmiah di atas, seberapa besarkah tekad Anda untuk membiasakan diri berlaku dermawan? Sedemikian pentingkah, bersedekah bagi Anda, saat ini? Sementara Anda mengulang-ulang pertanyaan barusan, bagaimana jika kita menyibak manfaat sedekah dari sejarah hidup seorang penutup para Nabi, Muhammad saw.

Sebagai ilustrasi, suatu kali Rasulullah SAW bersama para sahabatnya berkumpul, kemudian lewatlah seorang Yahudi. Lalu Rasulullah berkata, "Orang Yahudi ini sebentar lagi akan meninggal". Beberapa waktu kemudian, lewatlah orang Yahudi tadi dengan membawa kayu bakar. Ternyata dia tidak meninggal seperti yang disampaikan oleh Rasulullah sebelumnya. Para sahabat pun bertanya-tanya. Rasulullah kemudian memanggil orang Yahudi tersebut dan memintanya menurunkan serta membuka ikatan kayu bakarnya. Setelah ikatan dibuka, tiba-tiba keluarlah ular berbisa.

Rasulullah Saw berkata, "Seharusnya kamu meninggal dipatuk ular ini. Apa yang kamu lakukan?" Orang Yahudi itu berkata, "Dalam perjalanan mencari kayu, saya memberi sedekah kepada seorang miskin yang kesulitan." Rasulullah SAW berkata, "Sedekah itulah yang menyelamatkanmu dari patukan ular berbisa."
Sampai di sini, Anda mungkin masih penasaran mengenai jawaban atas pertanyaan pertama di tulisan ini. "Mungkinkah manusia membelah tubuh iblis?" Mari, cari tahu dengan menelusuri penjelasan di bawah ini.

Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas, suatu ketika iblis diperintah Allah untuk menemui RasululLah saw. Dalam salah satu penggalan dari hadist yang panjang tersebut, terdapat percakapan antara Rasul SAW dengan iblis sebagai berikut:
"Jika manusia bersedekah?" kata Rasul saw
"Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji." jawab iblis.
"Mengapa bisa begitu?"
"Sebab dalam sedekah ada empat keuntungan baginya. Yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab (pemisah) antara dirinya dengan api neraka, dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya."
Terbukti sudah, baik secara ilmiah atau berdasarkan tuntunan agama. Sedekah ialah sarana mudah bagi kita untuk dapati hidup yang bahagia plus bermakna. Apalagi yang Anda tunda-tunda, sekaranglah saat yang tepat untuk bersedekah!

"Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipatgandakan (balasan) bagi sesiapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS Al Baqarah: 261)

disalin dari : http://www.satumedia.info

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Seminar Nasional, Pengembangan SDM Daerah Berbasis TIK

Silahkan klik http://www.detiknas.org/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Makna Historisitas Alvin Toffler Tentang Peradaban Manusia yang akan Datang (Suatu kajian sejarah)

Latar belakang
Manusia selalu mengalami perubahan dan perubahan tersebut dapat dilihat salah satunya dari pekembangan manusia itu sendiri. Ia juga dikatakan sebagai pembuat sejarah akan kehidupannya yang tercipta secara alamiah, kehidupan manusia selalu bertitik tolak dari masa lalu, sekarang dan masa yang akan dating dengan kata lain bahwa manusia tidak pernbah lepas dari konteks ruang dan waktu. Manusia merupakan makhluk yang misterius mengapa dikatakan demikian karena sejarah telah membuktikan bahwa apa yang pernah dilakukan manusia selalu tidak dapat dirpediksikan dan selalu tidak dapat diketahui apa maksudnya. Sedangkan misterius dalam arti bahwa manusia itu sendiri tidak paham akan keberadaannya di masa akan datang.

Ditengah-tengah masyarakat global kita memasuki sebuah dunia baru yang di dalamnya kegiatan apapun dapat dilakukan dengan tingkat pengalaman yang sama yaitu di dalam jagat raya maya. Jagat raya maya itu dianggap lebih menyenangkan dibandinglan dunia maya itu sendiri. Bahkan segala sesuatu di masa lalu dianggap sebagai fantasi, halusinasi atau ilusi kini dapat “dialami” sebagai sebuah “realitas” yang nyata. Hal ini karena dunia fantasi, halusinasi dan ilusi tersebut dengan bantuan teknologi telah menstimulasi manusia dank init elah tumpang tindih dengan dunia realitas sehingga diantara keduannya tidak dapat dibedakan lagi (Slouka,1999:13).

Alvin Toffler merupakan salah seortang futuris yang mencoba memberikan suatu penjelasan tentang konsep manusia di masa datang. Konsep pemikiran Alvin Toffler ini diawali dari artikelnya yang merupakan karya
monumental yang dirumuskan dengan istilah future shock ( kejutan masa depan). Artikel ini melukiskan tentang tekanan dan disorientasi hebat yang dialami oleh manusia jika terlampau banyak dibebani perubahan dalam waktu terlampau singkat, jelasnya bahwa kejutan masa depan bukan lagi merukan bahaya potensial yang masih jauh tetapi merukan penyakit nyata ayng diderita oleh semakin banyaknya manusia. Kondisi psikologis-biologis ini dapat digambarkan denanterminologi medis dan psikiatri. Penyakit ini ialah penyakit perubahan ( Toffler,1989:10)

Mengapa penulis menagmbil tokoh Alfin Toffler?, karena tokoh ini di mata penulis merupakan tokoh yang mempunyai pemikiran unik tentang peradaban manusia yang akan dating. Berbeda dengan tokoh Soedatmoko yang orientasinya lebih kepada nilai,kemanusiaan dan kebudayaan. Dan yang perlu dikaji lebih mendalam adalah mencari makna histories apa yang disampaikan oleh Toffler tentang kehidupan manusia yang akan dating dan bagaiamana sebetulnya citra seorang manusia baru terkit dengan masa depan. Menurut Trotsky bahwa manusia yang akan dating itu “manusia akan lebih kuat,lebih pintar, dan cepat mengerti, badannya akan lebih serasi,gerakannya lebih berirama,sauranya lebih merdu. Gaya hidupnya kan mempunyai kualitas yang sanat dramatis dari rata-rata manusia itu akan setingkat Aristoteles,Goethe, dan Marx.” Bagi Frantz Fanon “ kedatangan manusia baru akan mempunyai pikiran baru.” Sedangkan Toffler sendiri tidak menjelaskan bagaimana citra manusia baru itu?, disinilah salahs atu letak keunikan Tofller ketika ia membicarakan tentang kehidupan manusia yang akan dating tetapi ia sendiri tidak menjelaskan manusia itu sendiri.

Historisitas manusia berkaitan dengan kompleksitas kesadaran. Kompleksitas merupakan segi luar dan intensitas merupakan segi dalam bdan,wahyu,wujud,kompleksitas dapat dikatakan dengan cara yang lebih umum sebagai aspek materi atau materialitas manusia. Segi dalam jiwa/intensitas/gaya dapat diaktakan sebagai askpek spiritualitas manusia.[1]

Masa Depan antara Realitas dan Harapan
Masa depan bagi manusia merupakan suatu yang rumit. Karena terlalu rumitnya masa depan tersebut menjadi sulit diprediksikan dan pada hakekatnya yang menjadi pijakan dari masa depan itu sendiri adalah masa lalu dari apa yang telah
terjadi dan masa depan itu sendiri merupakan sebuah realitas yang diharapkan bagi kehidupan manusia. Menurut Tofller masa dean adalah sebuah gelombang perubahan. Setiap kali gelombang perubahan yang tunggal menguasai suatu masyarakat tertentu maka pola perkembangan masa depannya relative untuk diamati. Sebaliknya, bila suatu masyarakat sedang dilanda dua tau lebih gelombang perubahan besar dan belum jelas yang mana yang dominant, maka citra manusia masa depan tiu menjadi retak. (Toffler,1990).

Akhir sejarah,biasanya dan lebih sering merupakan akhir setiap peradaban,ketika perdabanuniersal muncul,masyarakat menjadi tertipu oleh apa yang disebut Toynbee sebagai “baying-bayang keabadian dan menyakini bahwa apa yang menjadi milik mereka merupakan “bentuk” final dari seajrah kehidupan manusia.[2]

Manusia mengharapkan masa depan yang lebih baik memberikan suatu makna tersebndiri, memberikan harapan yang lebih baik. Tetapi manusia itu sendiri tidak dapat mengelak dari apa yang disebut dalam konsep Toffler adalah perubahan. Gelombang perubahan pertama, kedua, dan ketiga. Kemungkinan-kemungkinan yangdihadapi manusia sekarang ini adalah kemungkinan semu. Konteks kehidupan yang melanda kehidupan manusia saat ini tidak lepas dari konteks kehidupan masa lalu. Jadi apa yang pernah diperbuat oleh manusia masa mapau mempunyai korelasi pada masa depan manusia.

Harapan manusia tetnang masa depan adlaah harapan kesementaraan pergreseran kearah kesementaraan vbahkan akan terwujud dimisalkan dalam arsitektur bagian lingkungan fisik yangpada masa lalu sangat menunjang eksadaran manusia akan kekuatan. [3]

Konteks Manusia Sekarang

Berbicara masalah konteks berarti kita tidak akan terlepas dari teks yang melatarbelakangi keberadan konteks sekarang ini. Misalnya, kita berbicara tentang manusia dan peradabannya dengan kata lain, kita harus memahami teks apa itu sebenarnya manusia dan usaha apa yang menjadikan peradaban manusia berbeda dengan yang sesudahnya. Perkembangan manusia, tulis kritikus drama dan naturalis, Joseph Wood Krtich, pada tahun 1949, semakin menjauh manusia dari perngaulan social dengan sesamanyua. Lebih menyanjung benda-benda mati daripada benda hidup.[4] Konsep peradaban menurut Toffler adalah peradaban dimana teknologi menagbil peranan lebih besar disbanding dengan keberadaan manusia. Eksistensi manusia akan diagntikan dengan eksistensi teknologi sebagai jalan menuju peradaban baru. Manusia akan menjadi budak dari teknologi itu sendiri.

Segala kebutuhan dan kepentingan manusia akan terpenuhi dengan cepat dan tercukupi apabila menguasai ilmu dan teknologi sebagai jepmbatan menuju masa depan yang dicita-citakan. Di amsa depan yang sudah dekat, White emnegaskan teknologi itu akan memaksa kita melupakan hal-hal primer, tetapi menyanjung hal-hal sekunder dan terpencil”. White menyimpulkan bahwa ada sebauh era dimana dunia nyata menjadi khayalan…..” saat segalnya jungkir balik dan kita telah menjadi sosok mirip orang sinting, apa yang kita angap waras pada masa lampau kini justru dianggap sebagai sinting (E.B White dalam “Ruang yang hilang”).

Masyarakat yang hilang

Peradaban manusia masa depan dapat dikatan sebagai peradaban yang mekanik selama ini hokum-hukum positivistic masih bias ditentang oleh teori-teori filsafat dan social tetapi nantinya akan terjadi apa yang dinamakan sebagai pembalikan dari teori social bahwa hokum alam lah yang nantinya dapat berlaku dan terbukti secara alamiah karena telahterjadi proses pengaturan diri secara alamiah. Misalnya, masyarakat yang sekarang ini diaktakan sebagai masyarakat berbudaya,berperadaban, dan eksis tidak lama lagi akan menjadi masyarakat cyber dalam artian bahwa masayrakat tidak harus kita temui secara face to face tetapi masyarakat yang jauh yang tidak pernah kita kenalsebelumnya akan menjadi suatu yang eksis dalam kehidupan kita. Individu akan hidup tanpa adanya masyarakat dan yang akan disebut masyarakat bukanlah manusia tetapi mekanik-mekanik sebagai media dan teknologi sebagai penciupta masyarakat cyber tersebut.

Kriteria apa ayng dapat dikatakan sebagaio masyarakat yang hilang adalah ketika ruang-ruang public telah dialihkan fungsinya, ketika tempat bermain anak-anak telah digantikan dengan Computer Station, ketika media komunikasi tidak face to face lagi tetapi denagnperaltan yang canggih memungkinkan orang tidak harus hadir pada sat itu juga. Hanay menekan beberapa tombol saja orang sudah bias berkomunikasi dengansiapa saja, kapan saja, dan dimana saja tanpa emngurangi waktu yang ada. Teknologi informasi berkembangh dengan cepat sehingga banyak warung internet (Warnet). Hal inilah yangmenjadikan nilai-nilai essensial masyarakat telah hilang.

Penutup

Sejarah mausia merupakan sejarah kehidupan yang paling panjang, proses sejarah manusia melalui tiga fese yaitu masa lalu, kini dan yang akan dating. Ketiga fase tesebut tidak dapat dihidnari ekculai hanya dialami oleh manusia itu sendiri. Alfin Toffler adalah seorang tokoh pembuat sejarah kehidupan manusia yang akan dating. Sejarahwan yang tidak hanya melihat masa lalu sebagai objek studinya tetapi dengan masa masa lalu kehidupan manusia dapat diprediksikan. Disinilah makan historisitas menurut Alfin Toffler tentang kehidupan manusia yang akan dating yang diaperlihatkan secara jelas dengan pendekatan teori sebab-akibat.

Daftar Pustaka

-Samuel Hantington,2003, benturan Antar peradaban dan MAsa DEpan politk Dunia, Qalam, Yogyakarta.

-Mark Slouka,1999, Ruang yang HIlang Pandangan Humanis Tentang BUdaya Cyberspace yang Merisaukan, Mizan, Yogyakarta.

-Francis Fukuyama,2002, The Great Disruption Hakekat Manusia dan Rekontruksi Tatanan Sosial, Qalam, Yogyakarta.

-Alfin Toffler,1988, Gelombang ketiga (bagian pertama), Pantja Simpati, Jakarta.

-__________.,1990, Gelombang ketiga(Bag ekdua)___________

-__________,1988, Kejutan dan Gelombang_____________

-__________,1970, Kejutan Masa Depan ______________



[1] Bakker,Anton. Filsafat Sejarah” Bagian sistematis”. Diklat Kuliah

[2] Samuel Huntington,2003.hal.583

[3] Alvin Toffler,Kejutan Masa Depan

[4] Slouka,1999,hal 169

Sumber




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

24 Oktober, Buku Biografi Steve Jobs Terbit

Kabar mengenai tanggal peluncuran buku biografi Steve Jobs dilaporkan akan dipercepat pada 24 Oktober sesuai dengan hari kematian dari wakil pendiri Apple itu pada Rabu, kata seorang juru bicara dari rumah penerbit Simon and Schuster. Buku itu awalnya dijadwalkan akan diluncurkan pada 21 November.

Seperti dikutip dari Reuters, biografi resmi "Steve jobs", ditulis oleh Walter Isaacson, mantan managing editor dari majalah Time dan pimpinan eksekutif saat ini dari Aspen Institute, yang saat ini menjadi penjualan terbaik pertama dalam daftar pembelian pelanggan Amazon.

Sementara itu, Bluewater Productions mengatakan hal itu masih mengejar sebuah e-book edisi khusus dari buku komik Jobs mendatang.

Komik setebal 32 halaman yang berjudul 'Steve Jobs: Founder of Apple' dapat dibeli pada perangkat baca elektronik seperti NOOK dan kindle mulai Kamis. Edisi cetak dari buku komik dijadwalkan untuk diluncurkan pada akhir Oktober, dengan sebuah porsi keuntungannya dari kedua peluncuran itu yang akan diberikan American Cancer Society.

Jobs, wakil pendiri karismatik dan mantan pimpinan eksekutif dari Apple Inc meninggal pada Rabu di Palo Alto, California pada usia 56 tahun. Ia dianggap sebagai pimpinan eksekutif terbaik Amerika dari generasinya.
(REPUBLIKA.CO.ID)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

perbedaan sistem komputer dan ilmu komputer.

Sistem Informasi

Program Sistem Informasi lebih berfokus pada pengintegrasian solusi berbasis teknologi informasi dengan proses bisnis untuk memenuhi kebutuhan informasi bisnis dan usaha-usaha lain, yang memungkinkan tercapainya tujuan sebuah organisasi dengan efektif dan efisien. Perspektif bidang ilmu ini lebih memandang teknologi sebagai instrumen untuk mencatat, menghasilkan, mengolah, serta mendistribusikan informasi. Ahli-ahli di bidang ini memiliki kemampuan untuk memetakan kebutuhan informasi sebuah organisasi, dan menentukan cara terbaik teknologi informasi dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Selain penguasaan aspek teknologi informasi, seorang pakar sistem informasi juga harus memahami prinsip-prinsip manajemen dan bisnis. Sebagai konsekuensinya, kurikulum di bidang sistem informasi juga mencakup materi mengenai kerangka bisnis dan manajemen, di samping penguasaan teknologi perangkat lunak dan perangkat keras komputer.

Lulusan dari program ini memiliki keahlian yang sangat dibutuhkan industri saat ini, di mana pemanfaatan teknologi informasi sering menjadi kunci keunggulan sebuah organisasi.

Ilmu Komputer
Teknik Informatika

Program yang berjudul Ilmu Komputer dan Teknik Informatika pada dasarnya adalah program yang sama. Cakupannya cukup luas, mulai dari fondasi teoritis mengenai perancangan algoritma, yaitu konsep dasar yang melandasi pengembangan perangkat lunak, sampai kepada penerapan mutakhir berupa aplikasi robotika, kecerdasan buatan, bio-informatika, dan topik-topik menarik lainnya.

Fokus kurikulum Ilmu Komputer dan Teknik Informatika seringkali lebih ilmiah dan teoritis, dan cukup banyak mengandung unsur matematika dan logika.

Seorang lulusan Ilmu Komputer/Teknik Informatika memiliki kemampuan untuk merancang dan mengembangkan perangkat lunak yang canggih untuk menyelesaikan permasalahan yang rumit. Mereka jugalah yang senantiasa menemukan inovasi baru di bidang ilmu komputer. Sebagai contoh, saat ini kita sudah mengenal baik fasilitas Internet dan World Wide Web, yang tidak akan terwujud tanpa kemajuan di sub-bidang ilmu komputer seperti jaringan komputer (computer networking), basis data (database), serta interaksi manusia komputer. Saat ini, ilmuwan komputer menggunakan teknologi komputer untuk pengembangan robot yang cerdas, pemodelan DNA manusia, serta pembuatan program yang dapat memahami berbagai data dalam bentuk teks, gambar, suara, maupun video.

Teknik Komputer
Teknologi Komputer

Program ini berfokus pada perancangan dan pembangunan komputer dan sistem berbasis komputer. Topik yang dipelajari adalah perangkat keras, perangkat lunak, sistem komunikasi, serta interaksi antara semua elemen tersebut. Sistem pendidikannya biasanya lebih banyak menganut pendekatan rekayasa/terapan (engineering) daripada ilmiah (science).

Mahasiswa pada program Teknik/Teknologi Komputer lebih banyak mempelajari perancangan sistem perangkat keras dijital, termasuk komputer dan sistem telekomunikasi. Perangkat lunak tetap dipelajari,namun fokusnya terletak pada interaksinya dengan perangkat keras.

Sebuah sub-bidang yang cukup banyak diminati di Teknik/Teknologi Komputer adalah sistem tertanam (Embedded Systems), yaitu pengembangan perangkat selain komputer yang sebetulnya memiliki sistem perangkat keras maupun lunak ‘tertanam’ di dalamnya, misalnya telepon seluler, sensor dan peralatan medis, dan lain-lain.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Informasi

di Informasikan kepada Mahasiswa yang mengambil Mata Kuliah Riset Teknologi Infomasi untuk wajib membuat fasebook dan gabung dalam group matakuliah..


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KEINGINAN MENGGAPAI GELAR DOKTOR (Ph.D)

Muhammad Diah Yusuf
Dosen Fak. Teknologi Industri & Fak. Ilmu Komputer Univ. Muslim Indonesia
email.adiahyusuf@yahoo.com


Abstrak :
Motivasi yang mendasari seseorang mau melakukan ‘sesuatu’ penting secara kejiwaan, karena dapat merangsang tindakan sadar maupun tidak sadar untuk mencapai sesuatu tersebut. Motivasi juga menumbuhkan enerji yang diperlukan untuk menghadapi kesulitan atau tantangan yang timbul selama proses pencapaian tersebut. Dapat saja seseorang mempunyai ‘kemampuan’ tetapi tidak termotivasi memakai kemampuan tersebut, tentu saja tidak akan menghasilkan sesuatu. Sedangkan orang yang belum berkemampuan tetapi mempunyai keinginan atau motivasi yang kuat maka tindakannya akan mengarah kepada usaha untuk mengumpulkan kemampuan untuk akhirnya dapat mewujudkan keinginan yang menjadi motivasinya. Oleh karena itu, mengetahui motivasi seseorang akan membantu mengetahui apakah sesuatu itu dapat teraih atau tidak. Suatu motivasi yang kuat dan didukung oleh kompetensi yang baik merupakan kondisi ideal seseorang untuk secara cepat mencapai sesuatu yaitu meraih gelar Ph.D atau Doktor di Indonesia.

Kata kunci : Keinginan,gelar Doktor,Ph.D degree, penelitian, publikasi

PENDAHULUAN

Tulisan ini merupakan jawaban tertulis atas pertanyaan Prof. DR. Raja Fauzi pada saat sidang Final Defence Program Ph.D By Research di Universiti Tun Abdul Razak Malaysia, Rabu 24 Desember 2008. Pertanyaannya adalah : “Mengapa saudara berkeinginan untuk meraih gelar Ph.D ?

Pada saat sidang, penulis telah mencoba menjawab pertanyaan tersebut secara singkat, yaitu untuk dapat menjadi peneliti, atau semacamnya. Tetapi karena hal tersebut ternyata belum memuaskan beliau maka penulis coba menjabarkan secara lebih detail dengan menceritakan latar-belakang yang menyertainya sedemikian sehingga menjadi bentuk tulisan berikut.

Meskipun tulisan ini lebih banyak menceritakan pengalaman pribadi, tetapi diharapkan dapat menjawab pertanyaan di atas sekaligus juga agar dapat digunakan sebagai bahan renungan untuk rekan-rekan lain yang berminat.

DEFINISI DAN GELAR Ph.D.

Menurut ensiklopedia Wikipedia, Ph.D merupakan singkatan dari Doctor of Philosophy, (dari bahasa Latin "PhilosophiƦ Doctor"; atau kata yang sejenis lainnya yaitu Doctor PhilosophiƦ, Dr.Phil.), yang asal-mulanya adalah gelar (degree) yang diberikan universitas pada mahasiswanya yang dianggap telah mampu secara individu mencapai suatu tingkatan tertentu yang diakui oleh team pengujinya dan telah menunjukkan ketekunan serta menghasilkan karya-karya produktif di bidang falsafah (tentu saja yang dimaksud disini adalah falsafah atau konsep mendasar dari suatu ilmu, bukan hanya ilmu filsafat saja). Penggunaan istilah "Doctor" (dari kata Latin: guru) umumnya ditujukan kepada individu yang berusia separo baya yang menunjukkan bahwa sebagian besar hidupnya telah didedikasikan dalam bidang pembelajaran, mencari pengetahuan baru (penelitian) dan penyebaran pengetahuan (publikasi).

Sedangkan definisi menurut Universitas Otago, New Zealand, bahwa seseorang sukses mencapai tingkatan Ph.D bila karya tulisnya (Ph.D tesis atau disertasi) dapat digunakan sebagai petunjuk bahwa yang bersangkutan telah mampu secara mandiri melaksanakan suatu riset yang bersifat orisinil dan mempresentasikannya dalam suatu standard yang profesional. Kecuali itu, isi dari thesis tersebut harus dapat memberikan suatu kontribusi yang nyata pada bidang ilmu yang digelutinya. Jadi gelar Ph.D diberikan untuk menunjukkan bahwa yang bersangkutan mempunyai kemampuan secara individu untuk melakukan riset yang bermutu tinggi pada bidangnya tanpa supervisi orang lain. Umumnya gelar diberikan jika yang bersangkutan telah melaksanakan riset dibawah supervisi team khusus yang dibentuk dan melalui tahapan-tahapan evaluasi yang ditentukan oleh Universitas.

Gelar Ph.D populer pada abad 19 ini, dimulai di Berlin, Jerman, di Universitas Friedrich Wilhelm (sekarang Universitas Humboldt di Berlin, http://www.hu-berlin.de/ ), sebagai gelar yang diberikan kepada seseorang yang telah melakukan riset orisinil di bidang sain dan humaniora. Selanjutnya menyebar ke Amerika Serikat di Universitas Yale (1861), kemudian ke United Kingdom tahun 1921 dan akhirnya ke pelosok dunia.

Gelar Ph.D menjadi persyaratan agar dapat diterima sebagai pengajar tetap universitas (umumnya masih terbatas pada universitas-universitas ternama) atau peneliti pada beberapa bidang ilmu tertentu. Pada bidang lain, misalnya rekayasa atau geologi, penyandang gelar Ph.D akan memberi nilai tambah tetapi bukan sebagai syarat untuk bekerja pada bidang tersebut. Bahkan pada bidang-bidang pekerjaan tertentu, pegawai dengan gelar Ph.D dikategorikan terlalu ‘berlebih’ atau 'overqualification'.

Di Indonesia dimana gelar dapat dijadikan status sosial tertentu maka untuk menghindari penyalah-gunaannya, pemerintah mengeluarkan Kepmen No.036/U/1993 tentang "Gelar dan Sebutan Lulusan Perguruan Tinggi". Peraturan tersebut menyatakan bahwa gelar akademik dan sebutan profesional lulusan perguruan tinggi di Indonesia tidak dibenarkan untuk disesuaikan dan / atau diterjemahkan menjadi gelar akademik dan / atau sebutan profesional yang diberikan oleh perguruan tinggi di luar negeri, maka gelar Ph.D tidak dikenal dalam dunia pendidikan di Indonesia. Adapun gelar yang setara dengan gelar tersebut adalah gelar Doktor atau disingkat DR., yang menunjukkan gelar akademik tertinggi yang dapat diberikan universitas terhadap lulusannya dan berlaku untuk semua cabang ilmu.

Penulis memakai istilah Doktor pada awal tulisan ini, dan bukan dengan Ph.D untuk membedakan bahwa Doktor yang dimaksud adalah yang setara dengan Ph.D , karena di luar negeri dijumpai juga gelar-gelar ‘doktor’ lain yang lebih spesifik, misal Dr.-Ing.; D.Eng. (Doctor of Engineering); D.Sc. (Doctor of Science); D.B.A. (Doctor of Business Administration) ; dan sebagainya.Peminat gelar Ph.D (atau gelar Doktor di Indonesia) Dari uraian di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa gelar Ph.D menunjukkan bahwa seseorang mempunyai kompetensi melaksanakan riset orisinil bermutu tinggi secara mandiri (penelitian) dan mampu untuk menuliskannya sehingga dapat menyakinkan orang bahwa risetnya bermutu (publikasi). Maka gelar tersebut tentunya hanya diminati oleh orang-orang yang berkecipung di bidang-bidang yang terkait dengan dua hal tersebut, misalnya kalangan perguruan tinggi, peneliti atau lembaga pada Research & Development, dan lainnya yang sejenis.

Kalaupun ada orang-orang di bidang lain (misalnya pedagang, tentara dsb) mengambil program pendidikan untuk gelar tersebut, tentulah hanya orang-orang yang tertarik untuk menguasai ke dua hal yang baru tersebut. Jika gelar tersebut ternyata hanya digunakan untuk prestise saja maka tentunya tidak efisien, karena untuk itu diperlukan ketekunan dan waktu yang cukup lama (di UNITAR paling cepat 3 tahun). Lebih baik pikiran dan waktu yang ada difokuskan untuk berwirausaha sehingga dapat diperoleh uang yang banyak untuk digunakan untuk membeli rumah atau mobil atau sesuatu yang lain yang bersifat prestise. Tidak ada jaminan bahwa pemilik gelar Ph.D atau Doktor dapat menghasilkan pendapatan (kepuasan finansial) yang dapat bersaing dengan wirausaha lain yang juga sukses. Meskipun demikian hal tersebut tentu lebih baik dibandingkan jika gelar tersebut akan digunakan untuk mencari kekuasaan belaka (jabatan birokrasi).

Di Indonesia ada pendapat bahwa seorang yang bergelar tinggi juga identik dengan kemampuan untuk menjadi pemimpin yang baik. Padahal dalam program pendidikan Ph.D atau doktoral tersebut tidak ada pendidikan formal dan evaluasi yang menunjukkan bahwa pemegang gelar tersebut mempunyai kompetensi menjadi pemimpin yang baik. Hal tersebut juga dapat menjadi indikasi mengapa negara Indonesia yang kalau dilihat pemimpin-pemimpinnya mayoritas bergelar akademik tinggi tetapi relatif terbelakang dibandingkan negara-negara di Asia lainnya. Karena pemimpin yang baik tidak hanya butuh kemampuan akademik, tetapi juga komitmen, moral, dan lainnya yang tidak ada di bangku kuliah.

KEINGINAN PRIBADI MERAIH GELAR DOKTOR

Berbicara tentang keinginan untuk mendapatkan gelar Doktor bagi penulis, tentu saja tidak terlepas dari latar belakang pekerjaan yang telah penulis tekuni. Bidang pembelajaran bagi penulis telah dimulai sejak menjadi asisten mahasiswa (1989) di Fakultas Teknologi Industri UMI, Makassar . Karena pada waktu itu tidak ada pemikiran sama sekali untuk menjadi dosen (hanya Iseng2 saja sebagai asisten saja) maka selanjutnya saat lulus (1993), penulis mencoba melamar sebagai dosen dan diterima di Fakultas Teknologi Industri. Hal tersebut terinspirasi untuk meraih gelar tertinggi, dan sekaligus menjadi pengajar yang hebat dan cerdas, dan juga pada saat itu Fakultas Teknologi Industri lagi sedang naik daun, dg kemampuan harapan banyak melakukan studi kelayakan di industri-industri dimakassar, maka tanpa berpikir panjang dengan berbekal ijazah sarjana teknik industri maka penulis langsung menyampaikan lamaran untuk bekerja

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS